Tuhan, Ajarkan Kami Membaca


Tuhan, Ajarkan Kami Membaca

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Tuhan
Dalam percik airmu kami menatap kalut
Dalam dalamnya mata airmu kami menatap cinta

Tuhan
Sedalam apapun rahmatMu Kau pancarkan
Dalam dekapMu cinta Kau gelorakan
Dalam sebait kata-kata kami hambaMu

Tuhan
Kami teramat lemah kala terusik ujianMu
Kami terasa lemah kala terantuk azabMu
Dalam kekuasaanmu kami tak kuasa mengelaknya

Tuhan
Mungkinkah dalam derita ini masih tersisa
Bangunnya logika dan hati kami
Tuk mengingat kebesaranMu
Tuk memuji keperkasaanMu
Tuk menyembah keagunganMu

Tuhanku
Ajarkan kami membaca
Setiap ujian dan peringatanMu
Kami sadar kamitelah melupakanMu
Dalam kecukupan kami lalai akan titahMu

Kadang hati ini tumpul setumpul fikir dan pena kami
Dalam menuliskan ilmu dalam hati dan langkah kami
Agar kami sadar ada cahayaMu yg memberi kami petunjuk
Memberi kami hikmah dari setiap musibah ini
Agar kami sadar kelemahan kami
Agar kami sadar kebodohan kami

Tuhan
Ajari kami menyembahMu
Selayaknya perintahMu

Burung Yang Cemburu


twitter

Burung Yang Cemburu

Karya : M. Ali Amiruddin, S.Ag

******

Setiap detik suara-suara itu ada

sahu-sahutan bak burung pipit

mengalun-alun kadang tak tentu arah

…………………

bernyanyi namun tak bernada

bersair tapi tak berirama

pagi siang dan malampun hadir

hingga aku tak lagi nyenyak

mendengarkan suara-saura itu berbunyi

seperti jarum menusuk telingaku

………………………………..

kenapa mereka selalu berkicau

padahal kicauan itu milikku

bukan mereka bermulut besar

merebut saat-saat senduku

bersama angin

…………………………………….

aku cemburu

kau ambil bagian dalam hidupku

tersibak, terenggut olehmu si tukang kicau

padahal dirimu tak selayaknya berkicau

karenamu aku tak lagi bersuara

bisu, menundukkan mata

malu karena keserakahannmu

************

Perihnya Bunga Trotoar


pengemis

Perihnya Bunga Trotoar

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag

******************

Kata orang aku keenakan

datang tak diundang

tapi selalu diusir dan ditendang

……………………………..

Kata orang aku keenakan

menengadah meminta belas kasihan

kurasa tubuh ini tak berdaya

hanya wajah dan tangan yang kutengadahkan

……………………………………….

Kata orang aku keenakan

Berjualan tanpa tempat yang layak

meski hanya sekedar membeli sekilo beras

rela berpanas-panasan di bawah teriknya mentari

dan kedinginan dibawah kucuran hujan

menggigil dan sakit karena kedinginan

…………………………………….

Kata orang aku keenakan

meski hanya tampang doank

meski kejantanannku rela kubuang

hanya demi sesuap nasi dan seteguk mimpi

indahnya hidup di ibukota

……………………………………..

Kata orang aku keenakan

tapi biarlah memang aku keenakan

di saat tubuhku tercabik-cabik kesakitan

dalam kelaparan

********************

Tatkala Hatimu Mulai Mendingin


hati membeku

Tatkala Hatimu Mulai Mendingin

Karya : M. Ali Amiruddin, S.Ag

**********************

Tatkala malam begitu kelam

udarapun menusuk hingga tulang

selimut tak lagi menghangatkan

hati tak lagi bertemu

menyatu dalam degup-degup

irama romantisme malam

……………………..

Tatkala hati mulai tak nyaman

menemani malam yang tak bermakna

dingin, sepi dan hanya rajutan asa

dan hanya hembusan nafas amat lemah

mencari sesuatu tuk disentuh

demi sajak-sajak pelepas dahaga

namun kapan lagi kan bertahta

…………………………………………

Tatkala aromamu kini tak wangi

bahkan berganti sepi

meninggalkan tapak yang tak lagi bersisa

tinggal hembusan-hembusan kosong

…………………………….

Kepankah kicauan burung itu kembali

hingga terajut kembali rasa yang hilang

menyatu dalam gelapnya malam

dalam relung-relung hati yang terisi

denyut jantung yang kembali

menggelorakan rasa

asa yang pasti

Sajak Anak Umbul “Mengais Bahagia Bersama Bulan”


malam gelap

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Malam ini…

di saat semua mata terpaku di depan televisi

dengan segudang cerita yang tak berisi

Kami, anak-anak umbul tetap tertawa

bernyanyi dan bersorak

meski bumi ini gelap

temaran tanpa cahaya

untung saja rembulan sedang purnama

yang rela dibagi tuk kami anak-anak umbul

Malam ini…

meski orang-orang berebut jatah listrik

ada yang berebut jatah beras

bahkan ada yang berebut jatah umur panjang

toh kami tak peduli

Kami tetap tertawa,

kami tetap bernyanyi riang

walau kadang kaki telanjang kami tertusuk kerikil tajam

tapi kami puas

Walau jalan ini gelap tak berlampu

tak seterang lampu di jalan raya di kota sebelah

yang gemerlap meski hati mereka gelap gulita

dalam nyanyian bahagia

meski mereka dirasa nestapa

*Umbul : Sebutan kampung pinggiran Kab. Lampung Tengah

Andaikan Bulan Tak Lagi Bercahaya


Malam ini semakin larut menunggu sang kunang-kunang menyapa
membiaskan cahaya terang rembulanku di saat gelisah
menanti dan menunggu sebuah keniscayaan dalam kelam
berharap lilin terang itu menerangi relung jiwa yang terpasung

meski kadang gelap ini begitu hampa
karena tanpamu wahai sang bulan dengan cahayamu
berpancar berganti-ganti warna menyibakkan sisi gelam malam ini
menyapa, tertawa dalam dekapan cintamu yang mengiris kalbu

andaikan bulan tak lagi bercahaya lagi di senja gelap ini
melengkapi setiap detak jantung dan langkah lelah
menghibur diri meski tawa tiada meriah lagi
membangkitkan asa yang masih saja terpendam

wahai bulan merindu bintang
bertenggerlah selamanya di atas panorama hatiku
menorehkan cinta lembut semilirnya alam hakiki
menjadi keindahan yang tak berarti

akan tetapi bulan itu semakin redup bahkan hampir mati
dalam selaksa mimpi yang tak kunjung tergapai
berpadu dengan jenus dan rasa lelah
melebur menyatu membingkai hidup yang hampir lusuh

kini aku yang memandangmu dalam kedamaian
mulai menutup mata hati ini lebih dalam lagi
agar kehadiranmu yang lama kutunggu tak lagi menyesakkanku
demi dirimu rembulan purnama yang ayu

Ayah…Maafkan Aku….


Ayah…

Hari itu, tinggal kenangan
tatkala kubiarkan
kulalaikan harapanmu

Senyum yang semestinya kudapat
kini hanya mimpi yang tak kunjung hadir
terbawa angin surga
yang ternyata hanya membohongiku

Ayah…

Kenapa dulu aku tak mendengarmu
bahwa dia akan membunuhku
meski kenikmatan selalu menggelantung
dalam pikirku dan imajinasiku

pemakai narkoba

Ayah…

Aku menyesal
kini hujan deras pun datang
tatkala tubuh ini dilanda sakit
sakit karena narkoba
sakit karena kelalaianku
tak ada lagi kehidupan
di saat tubuh layaknya bangkai

tak bisa berharap lagi
tak bisa berbuat apa-apa lagi
hanya bisa menyesal

tinggal kenangan
dalam dekapan
mimpi-mimpi kosong