Puisi_Anak SD

Tersenyumlah! Selagi dunia memancarkan indahnya dan cita-cita melambaikan tangannya.


Tinggalkan komentar

Doa ‘Tuk Ibu


Wahai sahabatku

tataplah Ibumu

ketika ia terjaga terangnya siang

namamu yang selalu diingat

gelapnya malam

kamu dan kamu lagi yang dicari

……….

wahai sahabatku…

tak lepas namamu dari hati ibumu

rindu tumbuh bak pepohonan perdu

berbuah cinta kasih dan sayang

terukir jelas dalam hati ibumu

…………..

Ibumu….

kala gelapnya malam

ia berdoa demi dirimu sahabatku

demi si buah hatinya yang tercinta

agar dirimu tumbuh sehat nan ceria

pintar dan menyenangkan

senyum bahagia menyelimuti dirimu

……………

wahai sahabatku…

sudahkah kau doakan ibumu?

dalam bangun dan tidurmu?

dalam nikmatnya sajian pagimu?

dalam hangatnya selimut malammu?

seperti ibumu selalu mendoakanmu

agar engkau hidup bahagia

…………………

Ibumu…
doakan selalu bahagia

meski kau tak lagi bersamanya

ia bersama malaikat

penjaga alam kuburnya

meski tanpa kawan  dunia

pahala-pahala turut menjaganya

bersama bait-bait doamu dalam luasnya kuburnya

by: m.aliamiruddin/01/12/2014


Tinggalkan komentar

Senja


mentari

Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat

tersapu gelapnya malam semakin gulita

di sisinya suara-suara azan kembali menggema

bersahut-sahutan menggelorakan jiwa insani

menggugah rasa tuk dekat pada Ilahi

Ketika malam mulai menjelang

Kusujudkan tubuh ini ke haribaanMu ya Robbi

penuhi panggilan indah pemilik mentari

pemilik jiwa-jiwa kecil mengais mimpi ukhrawi

Senja ini…

semoga saja tak terkubur dalam tangis kami

melainkan dalam tawa riang meraih mimpi

senyum dan tatapan kami dalam muhibah ini

semoga Engkau selamatkan kami di malam ini

tertidur pulas bangun di pagi hari

mengais mimpi lagi capai cinta hakiki

(M. Ali Amiruddin)


Tinggalkan komentar

Kemana Indonesiaku dulu ?


Gambar: dedeh-priska.blogspot.com

Gambar: dedeh-priska.blogspot.com

Indonesia di mana Indahmu dulu?

tatkala berjuang memanggul senjata

bercerita tentang indahnya merdeka

bersatu dalam bingkai nusantara

bersama dunia lain yang bahagia juga

……………………..

Indonesiaku………..

Entah apa dalam benakmu

umpat sana, umpat sini

hujat, sana hujat sini tiada henti

puaskah…bahagiakah engkau kini?

menatap kami dalam rasa sakit ini?

…………………………….

Entahlah…

mungkinkah cintamu kini tiada lagi

tersisa ambisi keji tanpa nurani

bersama nafsu syetan yang keji?

…………………………..

Jangan cabik-cabik indahnya Indonesiaku

bersama ambisi bengismu berbalut nafsu

serakah membunuh jiwa-jiwa tak berdosa

membunuh tawa-tawa kami

Indonesiaku dulu dimana kini?

*******************

Karya: M. Ali Amiruddin, Metro, 08/11/2014


Tinggalkan komentar

Alhamdulillah AirMu Turun Lagi


Dalam bisik hati kami  berharap

Panas terik berganti syahdu

merengkuh kembali dinginnya kalbu

tatkala butiran air kembali menyelimuti cakrawala

turun lembut setitik demi setitik menyejukkan bumi ini

….

lama sekali kami menunggu turunmu wahai penyejuk jiwa

bersama dinginnya hembusan angin di ufuk timur

mengalirkan pengharapan bangunnya raga

kala sekian lama ranting-ranting berserakan

……

bersama dedaunan kering turut menghalau mimpi

indahnya hijaunya rerumputan

senyum mentari di pagi hari

….

Terimakasih Tuhan

sekian lama ku menanti

hujan turun kembali membangunkan tanahmu yang gersang

menyuburkan tandusnya duniawi

dunia hidup lagi

kami tersenyum lagi

Karya: M. Ali Amiruddin Metro, 07-11-2014


Tinggalkan komentar

Buku pun Menangis


buku tua

Bukankah bukumu yang tak jua kau sentuh

tak jadi bacaan indah di kala jelang fajarmu

tak jua di kala jelang senjamu saat jelang tidurmu

ia tak ubahnya hiasan mati dirak-rakan buku

berdebu tak lagi sempat kau baca

Bukankah bukumu hanya benda mati

meski tak kau baca tak juga merintih

mengharu biru dalam dekapan dingin malammu?

bukan. bukan itu yang dimaksud

Buku, andaikan ia bisa bicara

dalam seperti malamnya dalam doa

ia kan menengadah memohon padaNya

bahwa ia butuh tuk disentuh

butuh tuk dibaca

butuh tuk dipahami dan dimengerti

tapi kini……

semua beda kawan

buku tak ubahnya tumpukan sampah rumah para kecoa

vila yang hangat bagi serangga

tak hanya kecoa

kutu-kutu pun berpesta pora

mengunyah, melumat buku-buku nan usang

tercabik-cabik tak lagi bermakna….

Karya: M. Ali Amiruddin, Metro, 6-11-2014


Tinggalkan komentar

Akhiri Dendam Anda Tuan


matisuri

Dendam
Tatkala kita tersakiti
sakitnya ala tusukan duri-duri tajam
menusuk dalam jiwa mengiris-iris liangnya kalbu
aku marah kau pun marah
seakan-akan tak lagi terobati
Dendam
benar-benar sakitnya disini
di dalam hati ini tuan
menyusup dalam pembuluh darah
menghentikan langkah-langkahku tuk berpikir ulang
bahwa sakit tak mungkin ku biarkan menyanderaku
dalam dendam usang tak pernah lekang
Dendam
Ia amat mudah dibilangkan
baik ribu kata-kata kata bijak
seakan-akan begitu saja sirna TUAN
padahal amat sulit tuk disirnakan
meski bisa dilupakan
seiring keikhlasan jiwa ini
Dendam
mari akhiri Tuan
demi hidup yang hakiki
dalam relung cinta dan kasih manusia
terbalut ridhanya Ilahi Rabbi
Metro, 05/11/2014


Tinggalkan komentar

Saat Tubuhmu Terjerat HIV


13859925961703559112

Gambar : Ilustrasi Admin Kompasiana (shutterstock.com)

 

Saat tubuhmu terjerat HIV

tubuh pun tak berdaya meski terlihat perkasa

fisik semakin lemah meskipun terlihat bugar

itulah dirimu yang terpapar racun

matinya kehidupan mu dan kehidupan ku

………………………………………..

Saat tubuhmua terjerat HIV

tubuh ini mati rasa

lemah tak berdaya menanti kematian

berotot selayaknya lemah, lunglai tak berasa

tubuh indah selayaknya dipenuhi belatung

mengalir di setiap aliran darahmu

menyusup di kedalaman pembuluh arteri tubuhmu

tertelungkup tak berdaya

hidupmu semakin nista

tak tahu diri itu siapa

………………………………………………………..

Saat tubuhmu terjerat HIV

harta segunung pun lenyap tak bersisa

demi kesembuhan yang tak kunjung tiba

menanti untaian lafal-lafal doa, qodrat dan iradat Tuhan

berharap diri tak jatuh dalam kubangan lumpur

rapuh, runtuh berlumur duka nestapa

………………………………………………..

Saat tubummu terjerat HIV

semua orang menganggapmu hina

memicingkan mata

rendah dan tak berharga

selayaknya bangkai tengah berkelana

dalam kesepian dan kekalutan

menanti kematian yang kunjung tiba

………………………………………….

Hanya mereka yg masih berjiwa

menatapmu dalam kelembutan

bahwa engkaupun manusia yg berharga

meski tinggal puing-puing kelemahan

sepotong rangka tanpa urat dan daging

dalam segurat sesal dan sebalut asa

Puisi ini pertama kali dipublikasikan di www.kompasiana.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.