Saat Tubuhmu Terjerat HIV


13859925961703559112

Gambar : Ilustrasi Admin Kompasiana (shutterstock.com)

 

Saat tubuhmu terjerat HIV

tubuh pun tak berdaya meski terlihat perkasa

fisik semakin lemah meskipun terlihat bugar

itulah dirimu yang terpapar racun

matinya kehidupan mu dan kehidupan ku

………………………………………..

Saat tubuhmua terjerat HIV

tubuh ini mati rasa

lemah tak berdaya menanti kematian

berotot selayaknya lemah, lunglai tak berasa

tubuh indah selayaknya dipenuhi belatung

mengalir di setiap aliran darahmu

menyusup di kedalaman pembuluh arteri tubuhmu

tertelungkup tak berdaya

hidupmu semakin nista

tak tahu diri itu siapa

………………………………………………………..

Saat tubuhmu terjerat HIV

harta segunung pun lenyap tak bersisa

demi kesembuhan yang tak kunjung tiba

menanti untaian lafal-lafal doa, qodrat dan iradat Tuhan

berharap diri tak jatuh dalam kubangan lumpur

rapuh, runtuh berlumur duka nestapa

………………………………………………..

Saat tubummu terjerat HIV

semua orang menganggapmu hina

memicingkan mata

rendah dan tak berharga

selayaknya bangkai tengah berkelana

dalam kesepian dan kekalutan

menanti kematian yang kunjung tiba

………………………………………….

Hanya mereka yg masih berjiwa

menatapmu dalam kelembutan

bahwa engkaupun manusia yg berharga

meski tinggal puing-puing kelemahan

sepotong rangka tanpa urat dan daging

dalam segurat sesal dan sebalut asa

Puisi ini pertama kali dipublikasikan di www.kompasiana.com

Kutitip Negeri Pada Calon Pemimpin


Gambar

Wahai para calon pemimpin negeri
bumi ini terlalu luas tuk kau rawat
Tak semudah pula tuk kau ciptakan kedamaian
di dalamnya bersama rakyatmu dan jiwa-jiwa nan lemah

Wahai calon para pemimpin negeri
terlalu banyak sumpah dan janji tuk kami
sayang sekali sampai kini tinggal obral dan janji
tak pernah menukik seperti harapan dan mimpi kami

Bumi ini hampir karam bersama janji-janji pemimpin
Bahkan tak pernah lekang janji mereka di telinga kami
Terbayang-bayang di setiap ingatan kami
menelusup dalam urat nadi dan aliran darah kami

‘Tuk para calon pemimpin negeri ini
tak pantas kau mengeluh dan menghiba
tatkala dirimu duduk di singgahsana
bersama berjuta-juta kekayaan dan kewibawaan

tapi tahukah engkau wahai pemimpin negeriku
negeri ini seakan terkoyak oleh ambisimu
lupa akan janji sehidup semati merajut negeri yang hakiki
merajut cinta di antara kami yang berbeda

tapi, ku yakin di sana tersisa pemimpin nan bijaksana
merawat negeriku dalam bingkai harmoni
meniti kemajuan dan kemakmuran abadi
menuju kebahagiaan nan hakiki hingga nanti

(puisi untuk negeri)

 

Tuhan, Ajarkan Kami Membaca


Tuhan, Ajarkan Kami Membaca

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Tuhan
Dalam percik airmu kami menatap kalut
Dalam dalamnya mata airmu kami menatap cinta

Tuhan
Sedalam apapun rahmatMu Kau pancarkan
Dalam dekapMu cinta Kau gelorakan
Dalam sebait kata-kata kami hambaMu

Tuhan
Kami teramat lemah kala terusik ujianMu
Kami terasa lemah kala terantuk azabMu
Dalam kekuasaanmu kami tak kuasa mengelaknya

Tuhan
Mungkinkah dalam derita ini masih tersisa
Bangunnya logika dan hati kami
Tuk mengingat kebesaranMu
Tuk memuji keperkasaanMu
Tuk menyembah keagunganMu

Tuhanku
Ajarkan kami membaca
Setiap ujian dan peringatanMu
Kami sadar kamitelah melupakanMu
Dalam kecukupan kami lalai akan titahMu

Kadang hati ini tumpul setumpul fikir dan pena kami
Dalam menuliskan ilmu dalam hati dan langkah kami
Agar kami sadar ada cahayaMu yg memberi kami petunjuk
Memberi kami hikmah dari setiap musibah ini
Agar kami sadar kelemahan kami
Agar kami sadar kebodohan kami

Tuhan
Ajari kami menyembahMu
Selayaknya perintahMu

Burung Yang Cemburu


twitter

Burung Yang Cemburu

Karya : M. Ali Amiruddin, S.Ag

******

Setiap detik suara-suara itu ada

sahu-sahutan bak burung pipit

mengalun-alun kadang tak tentu arah

…………………

bernyanyi namun tak bernada

bersair tapi tak berirama

pagi siang dan malampun hadir

hingga aku tak lagi nyenyak

mendengarkan suara-saura itu berbunyi

seperti jarum menusuk telingaku

………………………………..

kenapa mereka selalu berkicau

padahal kicauan itu milikku

bukan mereka bermulut besar

merebut saat-saat senduku

bersama angin

…………………………………….

aku cemburu

kau ambil bagian dalam hidupku

tersibak, terenggut olehmu si tukang kicau

padahal dirimu tak selayaknya berkicau

karenamu aku tak lagi bersuara

bisu, menundukkan mata

malu karena keserakahannmu

************

Perihnya Bunga Trotoar


pengemis

Perihnya Bunga Trotoar

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag

******************

Kata orang aku keenakan

datang tak diundang

tapi selalu diusir dan ditendang

……………………………..

Kata orang aku keenakan

menengadah meminta belas kasihan

kurasa tubuh ini tak berdaya

hanya wajah dan tangan yang kutengadahkan

……………………………………….

Kata orang aku keenakan

Berjualan tanpa tempat yang layak

meski hanya sekedar membeli sekilo beras

rela berpanas-panasan di bawah teriknya mentari

dan kedinginan dibawah kucuran hujan

menggigil dan sakit karena kedinginan

…………………………………….

Kata orang aku keenakan

meski hanya tampang doank

meski kejantanannku rela kubuang

hanya demi sesuap nasi dan seteguk mimpi

indahnya hidup di ibukota

……………………………………..

Kata orang aku keenakan

tapi biarlah memang aku keenakan

di saat tubuhku tercabik-cabik kesakitan

dalam kelaparan

********************

Tatkala Hatimu Mulai Mendingin


hati membeku

Tatkala Hatimu Mulai Mendingin

Karya : M. Ali Amiruddin, S.Ag

**********************

Tatkala malam begitu kelam

udarapun menusuk hingga tulang

selimut tak lagi menghangatkan

hati tak lagi bertemu

menyatu dalam degup-degup

irama romantisme malam

……………………..

Tatkala hati mulai tak nyaman

menemani malam yang tak bermakna

dingin, sepi dan hanya rajutan asa

dan hanya hembusan nafas amat lemah

mencari sesuatu tuk disentuh

demi sajak-sajak pelepas dahaga

namun kapan lagi kan bertahta

…………………………………………

Tatkala aromamu kini tak wangi

bahkan berganti sepi

meninggalkan tapak yang tak lagi bersisa

tinggal hembusan-hembusan kosong

…………………………….

Kepankah kicauan burung itu kembali

hingga terajut kembali rasa yang hilang

menyatu dalam gelapnya malam

dalam relung-relung hati yang terisi

denyut jantung yang kembali

menggelorakan rasa

asa yang pasti

Sajak Anak Umbul “Mengais Bahagia Bersama Bulan”


malam gelap

Karya: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Malam ini…

di saat semua mata terpaku di depan televisi

dengan segudang cerita yang tak berisi

Kami, anak-anak umbul tetap tertawa

bernyanyi dan bersorak

meski bumi ini gelap

temaran tanpa cahaya

untung saja rembulan sedang purnama

yang rela dibagi tuk kami anak-anak umbul

Malam ini…

meski orang-orang berebut jatah listrik

ada yang berebut jatah beras

bahkan ada yang berebut jatah umur panjang

toh kami tak peduli

Kami tetap tertawa,

kami tetap bernyanyi riang

walau kadang kaki telanjang kami tertusuk kerikil tajam

tapi kami puas

Walau jalan ini gelap tak berlampu

tak seterang lampu di jalan raya di kota sebelah

yang gemerlap meski hati mereka gelap gulita

dalam nyanyian bahagia

meski mereka dirasa nestapa

*Umbul : Sebutan kampung pinggiran Kab. Lampung Tengah