Puisi_Anak SD

Tersenyumlah! Selagi dunia memancarkan indahnya dan cita-cita melambaikan tangannya.


Tinggalkan komentar

Aku Adalah Topeng


renders_anonymous_mask_by_samcro_33-d4q56cv

Topeng,

Berbahan kayu bercat mengkilat hiasan waktu

Berwajah anggun pesona  menawan sahdu

hidung mancung bibir nan imut suara merdu

 

Topeng

Para topeng lenggak-lenggok laksana ksatria

lenggok kana lenggok kiri memuji diri rayu pemuja

rengkuh sukma sesak dada tanamkan duka

 

Topeng

Wajahmu anggun semerbak pesonamu

sumirkan cacat, kelabui jiwa nan pengecut

putar kanan putar kini ala sang badut

 

Topeng

Rapat-rapat wajah tertutup pekat melekat

enggan terbuka hanyutkan tanya takut tersingkap

tersingkap jelas siapa dirimu di balik ksatria

 

Topeng

Entah kapan dirimu jujur kau hanyalah topeng

catnya loreng, hidungnya mancung adalah simbol

bibir nan seksi, mata nan tajam adalah konyol

 

Topeng

Tatkala aromamu tak lagi ayu

terbuka jelas siapa dia dibalik kayumu

hidung mancung hanyalah simbol seorang penipu

 

Topeng… siapakah aku?


Tinggalkan komentar

Ohhhh Gayuuuus Tumbenaaan


images images

Gayuuuus gayusss

Betapa dirimu nampak begitu bagus

Hingga sipir penjara dibikin angus

Terpana dan tunduk sambil mengendus

………

Oooh Gayuuuus

Begitu mudahnya lari ala para tikus

Lari terus di tebalnya awal columnimbus

Keluar petaka himpit wanita cantik berkulit mulus

………

Wahai Gayuuuus

Betapa dirimu berlagak pemain sirkussss

Bermain terus menerus sebab hidangkan piluss

Para pejabat negara pun dibikin terbius

…………

Untukmu wahai Gayuuuus

Cerdik nian dirimu keluar masuk penjara suka miskinus

Tak takut dicekal apalagi diberangus

Lantaran banyaknya uang walau tinggal gedebus

…………

Wahai Gayuuuuus

Enaknya jadi dirimu koruptor nan rakus

Uang rakyat kau hisap laksana ular yang haus

Tapi mendingan engkau jadi temannya wedusss

Gayuuuuus Gayuuuuuus

Koruptor rakuuuuus


Tinggalkan komentar

Wajah


Tatap melekat

tak kedip sakit

seloroh pucat belingsat

wajah lekat memikat

kerling wajah

pipi merona

bulu mata berbaris

bak semut-semut liar

rambut hitam

terlihat kelam

lidah menjulur

semakin diulur

tangan gapai

cahaya mimpi

tetap menggilas

tanpa simpati

itulah wajah

rona merekah

berbalik arah

tanpa merupa

tajam mata

silaukan cinta

rengkuh makhkota

gadaikan iman

rendah pula

hamba sang pemuja

pemuja wajah

tanpa bermakna

….

wajah……………………


Tinggalkan komentar

Buruh Tuhan


Menolak dari hukum Tuhan tentulah aku

tatkala titah-titahnya wajibkan sujudku

menyembahMu kala gelap atau terangmu

ku menoleh ke belakang lupakan diriMu

Sungguh terlalu diriku

jadi buruh tak tahu malu

harap pahala tatkala sembahku

harap iba kala sedihku

gimana Tuhan tak mengutukku

jadi buruh tetap bernafsu

ingin rezeki bertumpuk terumbu

mengais-ngais harap lupakan waktuku

anehnya diriku sang buruh Tuhanku

harapkan surga kala bersimpuh

berlinang air mata munajat mengadu

Ya Tuhan….sunggu aku buruh tak tahu malu

Pemalu harap kekayaan semu

asal tak pasti berharap sang ratu

bertumpuk-tumpuk dalam singgahsana kelabu

padahal ia hanyalah menipu

Sadarkanlah aku yang selalu mengadu

tanpa melihat putaran waktu

waktu subuh hingga isya’kku

terlewat kelebat tak berbekas syahdu

MAA, 01-05-2015


Tinggalkan komentar

Tangis Sang Penjagal


Jangan dikira aku bahagia berlumuran darah

tatkala peluru hitam itu merobek dadamu

kau tahu aku ragu melihatmu merajuk

dalam amarah kelam semburat ngilu batinmu

……………

jangan dikira jiwaku tertawa menatapmu

tergolek lemah tak berdaya mati membisu

kucuran darah merah basahi kalbuku

bukanlah aku pembunuh jiwa mengharu biru

…………………..

Ku tatap pelatukku dan gelapnya dadamu

bak api membakar noktah dan nafsu

sejurus tampak pucat,  sedih, sembab penuh haru

harap cemas menanti tajamnya waktu

……………………….

Jangan dikira ku tak tahu sedihnya kamu

melolong dalam tangis di lubuk hatiku

meratap sedih harap empati

gagalkan eksekusi  demi nurani

………………….

Tapi..

Bukankah nuranimu terlepas dari dadamu

hanyut dalam larutan darah dan air mata korbanmu

menggeliat bersimbah darah

terkubur dalam bersama mimpi semu?

…………………………

Tak mudah ku silapkan mata ini

melihat mata sedih dekati ajal menanti

berharap iba dan kasihani

di tangan sepucuk senjata api

……………………………..

Aku laksana malaikal maut

mencerabut jiwa kelam nan penakut

mengiris dada meski kadang kalut

takut salah Tuhan menuntut

……………………………

Tapi…

Itu bukan tangisku atau tangismu

semata-mata nurani hamba yang berlalu

terjebak mati jadi bangkai tak berlaku

sebab narkoba hamba terbunuh beribu-ribu

………………………………

Tuhanku Yang Pengampun

Doaku tak lekang dalam harapku

tuk ampunanMu pada hambaMu

hamba-hamba tersesat berdada sendu

************

Metro, 01/05/2015


Tinggalkan komentar

Puisi: Sadarlah Pembela Narkoba


Wahai para pemimpin negeri

negeri yang katanya menjunjung kemanusiaan

kenapa justru menjadi penjahatnya?

membela pembunuh kemanusiaan itu?

………………

Wahai para pemimpin negeri

apakah Anda tidak melihat?

berapa ribu bahkan jutaan rakyat tergoda

menenggak, meminumnya hingga tak sadar diri

otak mereka terkunci, tubuh mereka menjadi mati

………………………….

Wahai para pemimpin negeri yang katanya manusiawi

lihatlah berapa juta orang mati sia-sia

tak lagi menikmati saat-saat bahagia

membangun negeri tercinta dengan cinta

membangun negeri tercinta dengan gelora jiwa

………………………

Wahai pemimpin negeri pembela narkoba

sudahkah Anda Pikun atau Anda sengaja Lupa?

bahwa rakyatmu pun mati sia-sia

di terjang peluru manis yang membunuh sia-sia

…………………………..

Wahai pemimpin yang arif bijaksana

Itulah peluru pembunuh yang sesungguhnya

peluru-peluru yang katanya pembawa kenikmatan

tapi justru membunuh kami tanpa ampun

tak berdaya terbujur kaku sebab jeratan narkoba

&&&&

MAA

air mata


Tinggalkan komentar

Air (mata) Mu


air mata

air…diselaksa pagi

memericik di antara rindangnya dedaunan

meneteskan butiran-butiran penyejuk jiwa ini

menyibakkan duka nestapa nan menggurita diri

mengelus dada nan sempit gelapnya nurani

dada-dada insani perangi amarah duniawi

air…

dikala siang tetesanmu menyanjungku

memberikan secercah harapan kisah kasihmu

lepaskan duka nestapa yang kini masih berjibaku

bersama mimpi-mimpi semu

nan semakin layu

air…

entahlah…

kenapa kini dirimu tak lagi menyejukkanku

tak lagi menyibakkan duka nestapa yang mengharu biru

mengayun hangat dalam dentingan lagu

merdu sibakkan jiwa nan sendu

air…

apa salah kami.,…

hadirmu kini menyiramkan kepedihan semakin dalam

pemilik kelembutan kini terlihat semakin garang

menakutkan, mencengangkan,

semua tenggelam bersama duka nestapa kami

air….

aku tak tahu…

aku tak tahu…

apa ini semata-mata jeritan airmatamu

melihat negeri ini mengharu biru?

pemimpin negeri yg tak lagi menentu

semua kau hempaskan laksana buliran debu kotor berbau

agar bersih indah tak lagi semburatkan kelabu

pancarkan cahaya damai bersama jejak kami

anak-anak negeri yang terbujur kaku

tinggal tulang belulang membeku

@@@

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya