Puisi_Anak SD

Tersenyumlah! Selagi dunia memancarkan indahnya dan cita-cita melambaikan tangannya.


Meninggalkan komentar

Wajah


Tatap melekat

tak kedip sakit

seloroh pucat belingsat

wajah lekat memikat

kerling wajah

pipi merona

bulu mata berbaris

bak semut-semut liar

rambut hitam

terlihat kelam

lidah menjulur

semakin diulur

tangan gapai

cahaya mimpi

tetap menggilas

tanpa simpati

itulah wajah

rona merekah

berbalik arah

tanpa merupa

tajam mata

silaukan cinta

rengkuh makhkota

gadaikan iman

rendah pula

hamba sang pemuja

pemuja wajah

tanpa bermakna

….

wajah……………………


Meninggalkan komentar

Buruh Tuhan


Menolak dari hukum Tuhan tentulah aku

tatkala titah-titahnya wajibkan sujudku

menyembahMu kala gelap atau terangmu

ku menoleh ke belakang lupakan diriMu

Sungguh terlalu diriku

jadi buruh tak tahu malu

harap pahala tatkala sembahku

harap iba kala sedihku

gimana Tuhan tak mengutukku

jadi buruh tetap bernafsu

ingin rezeki bertumpuk terumbu

mengais-ngais harap lupakan waktuku

anehnya diriku sang buruh Tuhanku

harapkan surga kala bersimpuh

berlinang air mata munajat mengadu

Ya Tuhan….sunggu aku buruh tak tahu malu

Pemalu harap kekayaan semu

asal tak pasti berharap sang ratu

bertumpuk-tumpuk dalam singgahsana kelabu

padahal ia hanyalah menipu

Sadarkanlah aku yang selalu mengadu

tanpa melihat putaran waktu

waktu subuh hingga isya’kku

terlewat kelebat tak berbekas syahdu

MAA, 01-05-2015


Meninggalkan komentar

Tangis Sang Penjagal


Jangan dikira aku bahagia berlumuran darah

tatkala peluru hitam itu merobek dadamu

kau tahu aku ragu melihatmu merajuk

dalam amarah kelam semburat ngilu batinmu

……………

jangan dikira jiwaku tertawa menatapmu

tergolek lemah tak berdaya mati membisu

kucuran darah merah basahi kalbuku

bukanlah aku pembunuh jiwa mengharu biru

…………………..

Ku tatap pelatukku dan gelapnya dadamu

bak api membakar noktah dan nafsu

sejurus tampak pucat,  sedih, sembab penuh haru

harap cemas menanti tajamnya waktu

……………………….

Jangan dikira ku tak tahu sedihnya kamu

melolong dalam tangis di lubuk hatiku

meratap sedih harap empati

gagalkan eksekusi  demi nurani

………………….

Tapi..

Bukankah nuranimu terlepas dari dadamu

hanyut dalam larutan darah dan air mata korbanmu

menggeliat bersimbah darah

terkubur dalam bersama mimpi semu?

…………………………

Tak mudah ku silapkan mata ini

melihat mata sedih dekati ajal menanti

berharap iba dan kasihani

di tangan sepucuk senjata api

……………………………..

Aku laksana malaikal maut

mencerabut jiwa kelam nan penakut

mengiris dada meski kadang kalut

takut salah Tuhan menuntut

……………………………

Tapi…

Itu bukan tangisku atau tangismu

semata-mata nurani hamba yang berlalu

terjebak mati jadi bangkai tak berlaku

sebab narkoba hamba terbunuh beribu-ribu

………………………………

Tuhanku Yang Pengampun

Doaku tak lekang dalam harapku

tuk ampunanMu pada hambaMu

hamba-hamba tersesat berdada sendu

************

Metro, 01/05/2015


Meninggalkan komentar

Puisi: Sadarlah Pembela Narkoba


Wahai para pemimpin negeri

negeri yang katanya menjunjung kemanusiaan

kenapa justru menjadi penjahatnya?

membela pembunuh kemanusiaan itu?

………………

Wahai para pemimpin negeri

apakah Anda tidak melihat?

berapa ribu bahkan jutaan rakyat tergoda

menenggak, meminumnya hingga tak sadar diri

otak mereka terkunci, tubuh mereka menjadi mati

………………………….

Wahai para pemimpin negeri yang katanya manusiawi

lihatlah berapa juta orang mati sia-sia

tak lagi menikmati saat-saat bahagia

membangun negeri tercinta dengan cinta

membangun negeri tercinta dengan gelora jiwa

………………………

Wahai pemimpin negeri pembela narkoba

sudahkah Anda Pikun atau Anda sengaja Lupa?

bahwa rakyatmu pun mati sia-sia

di terjang peluru manis yang membunuh sia-sia

…………………………..

Wahai pemimpin yang arif bijaksana

Itulah peluru pembunuh yang sesungguhnya

peluru-peluru yang katanya pembawa kenikmatan

tapi justru membunuh kami tanpa ampun

tak berdaya terbujur kaku sebab jeratan narkoba

&&&&

MAA


Meninggalkan komentar

Pejalan Kaki


Siang menjelang senja itu, aku berdiri tertegun sambil memandangi jauhnya pandangan depan mataku. Mataku sesekali terpejam karena menahan kantuknya yang teramat sangat. Mungkin karena rasa lelah karena seharian menjalani rutinitas harian di kampusku. Tak peduli rasa haus dan lapar karena lambung yang keroncongan dan tenggorokan yang kering kerontang lantaran seharian tak tersentuh segarnya air putih ataupun teh manis. Belum lagi beban tubuh yang seakan-akan semakin berat tuk dibawa berjalan.

Aku tetap tertegun, terdiam seribu bahasa. Kulambaikan tanganku demi meraih empati pengendara yang lewat di depanku di mana aku tengah berdiri dengan keringat dan pakaian yang lumayan semakin lusuh. Sesekali pengendara yang lewat menoleh kearahku, sepertinya mukanya masam, tanda tak tertarik menawarkan tumpangannya untukku.

Kasihan amat diriku, hampir sejam sopir-sopir itu tak juga berhenti meski tanganku sudah mulai lelah, wajahku semakin malu karena tak lagi bisa menarik simpati orang-orang itu.

“Pak tolong sih beri saya tumpangan!”

Si sopir hanya menyeringai. Tak terlihat ingin menghentikan laju kendaraannya. Justru pedal gasnya semakin kuat ia hendakkan. Persis, kendaraannya pun melaju kembali dengan kencang.

“Oalah, kog ya nggak mau ngasih tumpangan sih? Pelit amat?” Dalam hatiku menggerutu.

Berkali-kali ku panggil pengendara lainnya, dan hasilnya masih tetap sama, nihil. Tak satupun kendaraan yang mau memberikan aku tumpangan.

Sesekali aku bergumam, seandainya saat ini aku membawa uang minimal sepuluh ribu saja, pastilah aku bisa naik ojek. Tapi semua hanya mimpi, dompetku ternyata masih kosong. Aku sadar aku belum bisa menghasilkan apa-apa tuk biaya kuliahku.

Sambil bergumam, sesekali pula kutatap penjual bakso dan es dawet di seberang jalan. Seandainya, saat ini uang sepuluh ribu masih ada ditanganku, tentu makanan dan minuman itu bisa aku nikmati. Sayang sekali semakin aku berharap yang tak mungkin kudapatkan, lidahku hanya bisa merakan air liurku jatuh tak terkendali. Rasa lapar dan haus semakin mendera dan menyiksaku.

“Ya Allah, sampai kapan aku berdiri di sini, sedangkan suasana semakin gelap. Apakah aku akan mati di sini tak segera melanjutkan langkahku ke rumah orang tuaku.”

Tiba-tiba pengojek menghampiriku. Mungkin melihat aku butuh ojekannya, jadi saya ditawarin ojek dengan ongkos kira-kira lima ribu rupiah.

“Mas, mau ngojek nggak?”

Sekedar bertanya kosong, Saya tanya ongkosnya.

“Berapa ongkos, Pak?

“Lima ribu rupiah, mas.”

Mendengar jawaban itu, saya kembali menjawab.

“Enggak pak, saya nunggu tumpangan saja”

Pengojek itupun kembali lagi ke tempatnya mangkal. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Semakin lama rasa laparku tak tertahan lagi, dan aku memutuskan untuk melanjutkan perjalananku meskipun hari mulai gelap. Kulangkahkan kakiku dengan gontai, lelah, lemah dan lesu semakin mendera. Rasa lapar seperti tak lagi tertahankan.

Tapi ya sudahlah, ku tetap melanjutkan langkahku, meski perjalanan itu sejauh lima kilometer hingga ke rumah orang tuaku. Mau menelpon minta jemputan, tak mungkin pula, karena kami keluarga miskin dan tak memiliki alat komunikasi seperti pemuda lainnya. Lagian kendaraan milik kami hanya sepeda butut. Tak tega membebani orang tua dengan pekerjaan lagi.

Beruntung bisa melanjutkan studi tak berfikir yang aneh-aneh karena memang aku tak kan mampu meraihnya.

Dalam kepasrahan dan keikhlasanku, di perjalanan tiba-tiba seorang pengendara sepeda dengan penampilan unik, pakaiannya putih, pakai sorban dan berwajah bersih tiba-tiba mengajakku membonceng sepedanya.

Tak perlu menunggu lama aku pun naik ke boncengan. Dan beliau kembali mengayuh sepedanya.

“Mau kemana, Dik?”

“Ke Sukadana, Pak.”

“Kog jalan kaki?”

“Iya pak, saya sudah terbiasa berjalan kaki, karena gak punya kendaraan.”

Tiba-tiba beliau menanyakan sesuatu.

“Adik sudah menikah?”

“Belum, Pak.”

“Kenapa kog belum?”

“Saya masih kuliah,kog Pak.”

“Ooo begitu.”

Orang tua itu hanya mengangguk-anggukkan kepala

“Nanti habis kuliah langsung menikah atau bekerja, Dik?”

“Ya kepinginnya langsung bekerja. Tapi jaman sekarang susah. Kalau gak punya pekarangan sehektar gak bisa dapat pekerjaan. Apalagi jadi pegawai negeri. Cuman mimpi pak?

“Aku yang bukan pekerja tetap saja berani menikah kog, Dik”

“Iya gimana, Pak? Lah untuk hidup sendiri saja susah. Apalagi nyariin anak istri. Apa nggak menderita nantinya?”

“Coba mas dipikirkan!. Saya dulu masih bujangan saja berani menikah. Nyatanya meskipun saya sederhana, saya bisa menghidupi keluarga saya.”

“Saya takut, Pak.”

“Takut apa, Dik?

“Takut tak bisa mencukupi keluarga saya.”

“Sekarang kamu sendiri takut, coba kalau sudah punya istri, kan ada temennya untuk berbagi. Nyari rezeki bareng-bareng, ngurus anak juga bareng-bareng. Apa yang ditakutkan?”

Saya kembali terdiam, gak bisa menjawab lagi apa kata orang tua itu. Sambil mencerna maksud kata-katanya, tiba-tiba kendaraan itu sudah mendekati gang di mana orang tuaku berada.

“Sudah pak, saya turun di sini.

“Iya. Dik.”

“Terimakasih ya pak atas tumpangannya?”

“Sama-sama, Dik”

“Bapak gak berkenan singgah di gubuk orang tua saya?

“Terimakasih , saya harus melanjutkan perjalanan saya.”

Saya pun melanjutkan perjalananku dengan hati senang, sambil menoleh kembali ke arah pengendara sepeda yang memberikan tumpangan. Dan tersenyum karena ada orang yang memberikan nasehat kehidupan padaku.

Tapi aku sama sekali tak mengenal siapa bapak tua itu, betapa ia baik hati menolongku meskipun aku tak memintanya.

Dalam hatiku aku berterimakasih atas pertolongan Allah, karena mendatangkan padaku seseorang yang mau menolongku.

Tak seberapa lama, suara adzan terdengar keras dari speaker masjid di kampungku. Alhamdulillah ternyata aku masih diberikan umur yang panjang.

******

MAA. Metro, 17/04/2015

air mata


Meninggalkan komentar

Air (mata) Mu


air mata

air…diselaksa pagi

memericik di antara rindangnya dedaunan

meneteskan butiran-butiran penyejuk jiwa ini

menyibakkan duka nestapa nan menggurita diri

mengelus dada nan sempit gelapnya nurani

dada-dada insani perangi amarah duniawi

air…

dikala siang tetesanmu menyanjungku

memberikan secercah harapan kisah kasihmu

lepaskan duka nestapa yang kini masih berjibaku

bersama mimpi-mimpi semu

nan semakin layu

air…

entahlah…

kenapa kini dirimu tak lagi menyejukkanku

tak lagi menyibakkan duka nestapa yang mengharu biru

mengayun hangat dalam dentingan lagu

merdu sibakkan jiwa nan sendu

air…

apa salah kami.,…

hadirmu kini menyiramkan kepedihan semakin dalam

pemilik kelembutan kini terlihat semakin garang

menakutkan, mencengangkan,

semua tenggelam bersama duka nestapa kami

air….

aku tak tahu…

aku tak tahu…

apa ini semata-mata jeritan airmatamu

melihat negeri ini mengharu biru?

pemimpin negeri yg tak lagi menentu

semua kau hempaskan laksana buliran debu kotor berbau

agar bersih indah tak lagi semburatkan kelabu

pancarkan cahaya damai bersama jejak kami

anak-anak negeri yang terbujur kaku

tinggal tulang belulang membeku

@@@


Meninggalkan komentar

Puisi ‘Tuk Pemilik Rekening Gendut


Ilustrasi : Pemilik Rekening Gendut (sijorinews.co)

Puisi ‘Tuk Pemilik Rekening Gendut

……….

Rekening Gendut
Bikin pikiran kami menggelayut
Tak tentu arah kemana harus nyumput
Lempar orang kalang kabut

Tak hanya pejabat istana berekening gendut
Pegawai rendahan pun sama-sama gendut
Gendut dan saling sikut
Teman takut sampai semaput

………………..

Hebatnya pemilik rekening gendut
Cewek mana saja bisa ikut
Tak hanya bawahan, penguasa pun nurut
Apa yang yang dibilang manggut-manggut

………………..

Sayang sekali aku tak punya rekening gendut
Semakin lama justru tambah mengkirut
Sayang sekali perutku yang tambah gendut
Gara-gara bokek kebanyakan kentut

………………..

Wahai pemilik rekening gendut
Lihatlah aku yang mau benjut
Gara-gara ribut sama bini karena urusan perut
Sedihnya aku sertifikasipun dibikin ribut

………………..

Ya Tuhan, hukumlah para pemilik rekening gendut
Seperti doa kami agar mereka tak bisa kentut
Mati sekarat, sengsara tertelungkup seperti siput
Merangkak-rangkak disiksa malaikat maut

………………..

Salam dari kami, Pembenci Rekening Gendut
Dasar Kadut!!!

Metro, 28 Januari 2015

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.